Oleh: M. Abdul Rohim
Judul Buku : Mengikat Makna Update
Membaca dan Menulis yang Memberdayakan
Penulis : Hernowo
Penerbit : KAIFA PT Mizan Pustaka
Tebal : XXXii + 213 halaman
Banyak orang merasa bahwa menulis itu sangat sulit. Tetapi buku ini menampik persepsi tersebut. Hernowo menjelaskan bahwa menulis itu mudah.
Di dalam buku ini dijelaskan langkah-langkah untuk menulis yang produktif. Karena banyak orang yang menulis tetapi tidak memiliki produktifitas dalam menulis. Dengan penyajiannya yang mudah dipahami oleh semua kalangan, mulai dari pelajar, guru, remaja, pemula dan yang sudah mahir menulis, buku ini hadir untuk mengupas cara menulis yang berdaya. Menulis tidak hanya sekadar menulis. Tetapi menulis yang mampu memberikan efek keilmuan bagi penulis.
Buku ini disajikan secara gamblang disertai dengan pengalaman-pengalaman menulis pengarangnya sendiri. Serta dilengkapi dengan bagan-bagan dan contoh-contoh buku yang menggugah semangat dalam menulis. Sehingga membuat buku ini mudah untuk dimengerti.
Buku ini disusun dari bab per-bab guna menjelaskan tiga langkah dalam mengikat makna. Maksud dari mengikat makna itu sendiri adalah penulis tidak hanya menelurkan tulisan, tetapi ia juga mampu mengambil makna (ilmu) dari tulisan itu sendiri. Agar tulisan yang ia telurkan bisa berguna bagi pembaca.
Dalam penjelasan buku ini, pria yang menulis 24 buku dalam waktu 4 tahun ini memberikan permisalan-permisalan. Agar pembaca dapat memperoleh semangat untuk menulis.
Sebenarnya untuk membuat aktifitas menulis menjadi lebih menyenangkan dan berdaya (berkualitas) serta bermakna terdapat tiga langkah. Pertama, menyediakan ruang privat. Hernowo menjelaskan bahwa seorang penulis harus mempunyai ruang privasi. Hal ini bertujuan agar seorang penulis bisa lebih intensif dalam menulis. Ruang privasi dibutuhkan bagi seorang penulis untuk mendapatkan ketenangan dalam menulis. Ruang privat ini berada pada pikiran seorang penulis (hlm: 18).
Di ruang privat ini seorang penulis bisa dengan leluasa mencurahkan semua unek-unek dan semua yang ada dalam pikirannya. Tidak ada otoritas lain selain dirinya. Orang yang ingin menulis harus meninggalkan kaidah-kaidah kepenulisan. Sebab banyak orang yang kesulitan menuliskan idenya karena berpacu pada kaidah kepenulisan. Dengan ruang privat orang mempunyai kebebasan mutlak untuk menentukan segala sesuatu yang ingin ia lakukan. Ia bebas memilih bacaan, bebas menentukan tema yang ingin ia tulis. Dan ia bebas untuk menentukan ending tulisannya. Karena sering kita jumpai, banyak orang yang ingin bisa menulis tetapi tidak bisa memulai menulis. Sebab mereka masih menghiraukan struktur keilmiahan dalam tulisan. Menurut Hernowo, untuk mebiasakan menulis bisa dimulai melalui facebook, blog dan media-media lainnya yang ada dalam internet (hal; 15).
Langkah kedua, memadukan membaca dan menulis dalam satu paket kegiatan yang diselenggarakan secara kontinu dan konsisten. Pria yang telah mempunyai 34 karya buku ini menjelaskan bahwa untuk dapat mengikat makna seseorang harus memiliki dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan. Yaitu membaca untuk menulis dan menulis untuk membaca. Kedua-duanya ini tidak bisa dipisahkan.
Menulis tanpa diimbangi dengan membaca akan membuat tulisan kita “mandul”. Karena membaca bukan sekadar membuat diri kita kaya akan pengetahuan dan wawasan (hal; 94). Membaca akan membuat diri kita lebih bijaksana dalam menulis. Dan dengan menulis, semangat untuk melahap bacaan akan kita temukan.
Langkah ketiga, berusaha sekuat daya untuk menemukan makna ketika menjalankan kegiatan menulis. Jati diri seseorang bisa ditemukan melalui kegiatan menulis. Karena menulis adalah kegiatan yang ada dalam diri seseorang melalui perenungan kemudian dituangkannya dalam bentuk tulisan. Setelah menemukan apa yang akan ditulis, ia harus membaca buku-buku yang berkaitan dengan apa yang akan ditulis.
Untuk masalah ini Hernowo memberikan permisalan tentang seorang pria yang sedang menyelesaikan skripsinya. Pria tersebut telah mengantongi data dan referensi untuk skripsinya. Tetapi ia ragu mengungkapkan pendapatnya sendiri. Tetapi setelah ia melihat tulisan ayahnya yang dihasilkan dari ruang privat dan dipublikasikan di ruang publik. akhirnya ia pun sadar bahwa untuk mengungkapkan ide yang ada dalam dirinya ia perlu mencari penguatan dari ide orang lain (hal; 178-179). Seorang ilmuan besarpun tidak terlepas dari karya ilmuan sebelumnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar